16.2.10

JIKa Ia sebuah CINTA..


Jika ia sebuah cinta......
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

Jika itu sebuah cinta..
Memang sakit melihat orang yang ku cintai ..
Berbahagia dengan orang lain ..
Tapi lebih sakit lagi kalau orang ku cintai itu ..
Tidak berbahagia bersama ku..

Jika itu cinta..
Ia sering kali lari bila kita cari..
Namun cinta juga sering kita biarkan pergi ..
Saat dia menghampiri. .

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak buta..
Namun senantiasa melihat dan merasa..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak menyiksa..
Namun senantiasa menguji...

JIka itu cinta
Ia seperti kupu-kupu. ..
Tambah dikejar, tambah lari..
Tapi kalau dibiarkan terbang..
Dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. .

Jika itu cinta..
Aku seharusnya dapat melepaskannya
Untuk merelakannya. .
Berbahagia dengan yg lain..

Jika itu Cinta ..
Maka cinta akan berharga ..
kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. .

Jika itu cinta..
Bukan bagaimana menjadi pasangan yg sempurna...
Tapi membiarkan kita menjadi diri sendiri..
Dan oleh karenanya kita menjadi sempurna..

Jika ia sebuah cinta...
Ia tidak memaksa..
Namun senantiasa berusaha..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak cantik atau ganteng..
Namun senantiasa menarik..

Jika ia cinta..
Bukan karena kau cantik atau ganteng..
Maka aku mencintaimu. .
Tapi karena aku mencintaimu. .
Maka kau selalu terlihat cantik dan ganteng..

Jika itu cinta..
Ia akan mulai dengan senyuman,
Tumbuh dalam pelukan
Dan siap jika harus berakhir dengan airmata.

Jika itu cinta
Ia tidak berkata, "Ini salah kamu",
Tapi 'Maafkan aku".
Bukan juga ' Kamu dimana sih?",
Tapi " Aku disini ".
Tidak berkata " Gimana sih kamu?"
Melainkan "Aku mengerti kok".
Bukan "Harusnya kamu gak kayak gini",
Tapi "Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya".

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak datang dengan kata-kata..
Namun senantiasa menghampiri dengan hati..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan ketika aku tak dapat bersatu dengannya
Tapi akan lebih menyakitkan lagi
Apabila dia tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak terucap dengan kata..
Namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan mencintai orang yang tidak mencintaimu. .
Namun lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang..
Dan engkau tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintamu padanya..

Jika ia sebuah cinta.....
Ia tidak hanya berjanji..
Namun senantiasa mencoba dan memenuhi..

Jika itu cinta..
Maka itu hanya sekeping..
Tidak seperti mata dan telinga..
Yang hampir selalu berpasang pasangan..
Karena Tuhan memberikan sekeping hati lainnya..
Pada seseorang untuk kita mencarinya, itulah Cinta.

Jika ia sebuah cinta.....
Ia mungkin tidak suci..
Namun senantiasa tulus..

Jika itu Cinta...
Engkau masih bisa tersenyum ..
Dan berkata aku turut berbahagia untukmu..
Ketika dia memilih mencintai orang lain..

Jika ia sebuah Cinta.....
Ia tidak hadir karena permintaan..
Namun hadir karena ketentuan...

Jika itu Cinta
Ia datang kepada orang yang masih punya harapan ..
Walaupun ia pernah dikhianati..

Jika itu Cinta..
Ia hadir kepada mereka yang masih percaya...
Walaupun ia pernah dicampakkan. .

Jika itu Cinta..
Ia tumbuh di hati mereka yang masih ingin mencintai..
Walaupun ia pernah dihempaskan

JIka itu Cinta..
Ia berkembang di relung hati ..
Mereka yang punya keberanian dan keyakinan ..
Untuk membangun kembali kepercayaan. .

Jika ia sebuah Cinta.....
Ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan...
Namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan...

Jika itu Cinta..
Ia akan membiarkan orang yang kamu cintai ..
Menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya ..
Menjadi gambaran yang kamu kehendaki..

DAN JIKA IA CINTA...
Berkorban tapi tidak menuntut;
Memberi tapi tidak memaksa;
Mencintai tanpa pamrih;

entah cinta mana yang kau genggam..



Entah, cinta mana kini kau genggam
Di getar jemarimu kisah kisah berceceran
Seperti tak ingin kau ingat kesedihan, luka dari tiap pertempuran
Mungkin kau telah demikian banyak kehilangan
Setiap kepergian yang kau antar
Dipersimpangan jalan itu


Entah, apa saja kini kau pikirkan
Demikian banyak yang melintas dan tak sempat kau catat
Seperti tak ingin ada kenangan pada halaman buku harian
Saat langkah kaki menapaki jarum jam
Di pergantian hari dengan nama nama yang sama
Waktu bagimu adalah tanda, sebuah prasasti
Dengan lonceng yang siap berdentingan memanggil hujan
Di sudut matamu
Ya, lalu kau hanya mengenali hari untuk tiap peristiwa
Meski tidak untuk kau catat dalam buku harian

Entah, cinta yang mana ini sedang kau genggam
Di debar dadamu bunga bunga berjatuhan
Menjadi kupu kupu yang mengantarmu pergi
Melewati ribuan prasasti
Dan lonceng-lonceng yang terus berdentangan

pantai, 14-02-10


2.2.10

kisah wortel, telur, dan bubuk kopi..


Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.
Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”

1.2.10

filosofi kopi



“Apakah anda seorang yang bisa bangun pagi tanpa kopi? Jika iya, jangan bekerja hari ini. Ilmuan dari Univerisitas Kedokteran Tohoku Jepang meneliti kebiasaan minum kopi dari sekitar 40.000 orang yang berumur 40-64 tahun dalam jangka waktu 13 tahun. Mereka menemukan bahwa orang yang minum kopi sekali sehari, 49% lebih kecil kemungkinan terkena kanker mulut dan tenggorokan. Itu karena kafein dalam kopi bisa melindungi DNA tubuh dari gejala-gejala kanker.”
Men’s Health Australia April 2009.
Bicara soal kopi, memang unik. Mulai dari alasan minum kopi, fakta-fakta unik tentang kopi, sampai filosofi-filosofi menarik di balik rasa kopi dan ritual minum kopi. Apalagi asal-usul kenapa orang suka minum kopi.
Salah satu kisah unik adalah kisah lisan yang ada di Swedia. Cerita ini mengisahkan mengapa orang Swedia benar-benar keranjingan minum kopi. Konon, Raja Gustaff II (1594-1632) dari Swedia pernah menjatuhkan hukuman kepada dua orang bersaudara kembar. Mereka dianggap bersalah dalam suatu tindak pidana.



Untuk menentukan siapa yang bersalah, sang raja membuat aturan unik dan tak lazim.
Salah seorang hanya diizinkan minum kopi selama hidupnya, sedangkan seorang lagi hanya boleh minum teh. Siapa yang lebih dulu meninggal, dialah yang dianggap bersalah.
Ternyata, yang meninggal duluan adalah peminum teh pada usia 83 tahun, meski sudah terlambat, dia ditetapkan sebagai yang bersalah. Sejak saat itulah, orang Swedia dan negara-negara di kawasan Skandinavia menjadi begitu maniak dan fanatik terhadap kopi. Mungkin mereka percaya dengan minum kopi, umur mereka bisa lebih panjang
Kisah unik lain juga terjadi di Ethiopia. Dan sepertinya, kisah inilah legenda paling masyhur dalam perjalanan kopi, yaitu kisah tentang Kaldi dan temuan “biji merah ajaibnya”. Kisah ini terjadi sekitar abad ke-3. Seorang penggembala kambing di Ethiopia bernama Kaldi, suatu hari kambing-kambing tersebut tidak pulang dan Kaldi pun mencarinya. Ketika ditemukan, Kaldi melihat kelakuan aneh diperlihatkan oleh kambing-kambingnya, berloncatan riang gembira. Ketika Kaldi memakan buah yang sama, ia merasakan riang gembira. Begitu juga saat ada pemuda dari kota bernama Aucuba, mencampurkan buah itu kemakanannya, rasa kantuk yang dideritanya menghilang.
Nahhh... itu baru dua kisah unik di balik kopi. Lain kisah, lain lagi arti dan filosofi dibalik “kopi” dan ritual minum kopi. Ada yang bilang, bahwa petualangan minum kopi adalah pencarian jati diri (Dewi Lestari, “Filosofi Kopi). Malah ada juga yang bilang bahwa “BELI KOPI = BELI HARGA DIRI”. Kenapa? Karena kopi bukan lagi sekedar pemuas rasa dahaga atau teman merokok di pagi hari saat bangun tidur, tapi lebih dari pada itu. Kopi menjelma menjadi gaya hidup. Tidak hanya di luar negeri (AS misalnya, Starbucks), tapi juga di Jakarta dan hampir semua kota di Indonesia. Kopi menjadi alat bersosialisasi, dan teman “nongkrong” bareng di malam hari bersama teman. Pun masih ditambah dengan alasan-alasan unik lain; biar berkesan “classy”, biar gaya, menghilangkan stress, menghilangkan patah hati, teman diskusi, teman tukar info, dll.
Sedangkan kalo dilihat dari rasa kopi sendiri, arti dan filosofinya juga tidak kalah unik. seperti capuccino yang katanya adalah kopi bercita rasa paling tinggi yang penuh keindahan, dan berbagai jenis kopi lain dengan filosofinya yang menarik. Pesan yang ingin disampaikan melalui kopi ini lebih ke tentang kehidupan, bagaimana kehidupan yang kita inginkan, sesuai dengan kopi favorit kita. Kopi tubruk itu lugu, sederhana, tapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Kopi tubruk tidak peduli pada penampilannya, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi, tunggu sampai anda mencium aromanya. Kedahsyatan kopi tubruk terletak pada temperatur, tekanan, dan urutan langkah pembuatan yang tepat. Semua itu akan sia-sia kalau anda kehilangan tujuan sebenarnya: AROMA. Jadi coba hirup dulu aromanya (katanya sie).
Adalagi espresso strong, kopi asli tanpa gula yang biasa disajikan dengan cangkir kecil. Konon, kalau masih bisa merasakan pahitnya kopi espresso, itu berarti belum cukup merasakan pahit getirnya hidup ! (haha.. !)
Dan sepertinya, masih banyak aneka kopi lain yang juga punya filosofi dan arti unik yang cukup membuat kita tersenyum simpul dan mengangguk mengiyakan. Apalagi kalau ditambah dengan cerita tempat-tempat favorit minum kopi. Makin unik dan lucu. Mulai dari “hommy place”, “tempat saksi jadian” sampai pada alasan “karena banyak yang keren-keren dan enak dilihat”.
Naahhh.... kira-kira Makna apakah yang terpendam didalam cangkir kopimu?
Yang jelas, Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tidak mungkin kamu sembunyikan…..

27.1.10

sebuah ALASAN..



Di sebuah cafe, sepasang muda-mudi sedang berpacaran. Terjadilah percakapan berikut:

Cewek: "Mengapa kamu menyukai saya? Mengapa kamu mencintaiku?"

Cowok: "Aku tidak bisa memberitahu alasannya ... tapi aku benar-benar mencintaimu."

Cewek: "Tuh kan! Kamu bahkan tidak bisa menceritakan alasannya ... bagaimana kamu bisa bilang kamu menyukai aku? Bagaimana kamu bisa bilang kamu mencintaiku?"

Cowok: "Aku benar-benar tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu."

Cewek: "BUKTI? TIDAK! Aku ingin kamu menceritakan alasannya. Pacarnya temanku aja bisa mengatakan padanya mengapa dia mencintainya tetapi kenapa kamu tidak?"

Cowok: "Ok .. ok! Ehm ... karena kamu cantik, karena suara kamu lembut, karena kamu perhatian, karena kamu mencintai aku, karena kamu bijaksana, karena senyummu, karena setiap sentuhanmu."

Si Cewek merasa sangat puas dengan jawabannya.


Sayangnya, beberapa hari kemudian, si Cewek mengalami sebuah kecelakaan dan menjadi koma. Si Cowok kemudian meletakkan sebuah surat di sisinya, dan berikut adalah isi suratnya:

"Darling, karena suara manis kamulah, aku mencintaimu ...
Sekarang Kamu bisa bicara? Tidak! Oleh karena itu aku tidak bisa mencintai kamu. Karena perhatian dan kepedulian kamu, aku suka padamu. Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya lagi, maka aku tidak bisa mencintai kamu. Karena senyumanmu, karena sentuhanmu, aku mencintaimu. Sekarang bisakah kamu tersenyum? Sekarang bisakah kamu bergerak? Tidak, oleh karena itu aku tidak bisa cinta padamu. Jika cinta butuh alasan, seperti sekarang, tidak ada alasan bagiku untuk mencintai kamu lagi. Apakah cinta butuh alasan? TIDAK! Oleh karena itu, aku masih mencintaimu dan cinta tidak memerlukan alasan."

Kadang-kadang yang terbaik dan hal-hal yang paling indah di dunia tidak dapat dilihat, tidak bisa disentuh, tetapi dapat dirasakan dalam hati.

3.3.09

... lentera akhir malam ...






Sepi …. hening

dalam gelap dan udara malam yang dingin

berhembus angin yang berbisik suara-suara daun basah,

di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.

Malam ini aku kembali beranjak meniti jalanan

di tepian kota, bersama deretan

lentera-lentera yang bernyala redup.

Dalam udara yang dingin membeku,

setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,

menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti

sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing

dalam bentang malam yang gelap, menawarkan kehangatan yang mengusap lembut,

merambati relung yang sempat dingin dan beku.

Kujelang lentera di akhir malam berderet

sepanjang tepi jalanan kota ini,

tanpa sanggup menatap lekat melawan pijarnya,

tanpa sanggup menghembus kata yang bisa meniup pijarnya,

tanpa sanggup berpaling meninggalkan nyala kecilnya,

dan ingin terus bersinar bersama,

menghabiskan sisa malam yang dingin.


Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil

Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,

walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam

atau dalam pagi yang masih sepi.

Lentera akhir malam ...

kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;

“wahai gadis kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,

teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.

karena nyala kecilku ini, kan selalu menyinarimu ...




*** teruntuk lentera kecil yang membiarkanku bersandar dalam pijarnya di malam itu ***

... satu persembahan untuk sahabat ...





Aku menuliskan karya Kahlil Gibran ini sebagai ungkapan terdalam atas segala rasa yang kumaknai dari para sahabat yang pernah dan masih dekat serta tersimpan lekat dibalik jeruji jiwa.

"Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.



*** Teruntuk sahabat. Terima kasih atas semua yang indah yang pernah kita untai bersama ***

2.3.09

Cinta : sebuah karya dari Khalil Gibran




kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tidak terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

1.3.09

... episode berjudul insomnia club ...







Insomnia Club !
Satu episode menarik yang pernah kuperankan. Entah pemeran utama entah figuran, tapi yang jelas, ini merupakan satu episode yang membawaku pada kebenaran yang indah
. Satu episode yang samar dan membayang di bagian awal ceritanya, namun kemudian cukup membuahkan klimaks yang nyata lebih dari sekedar memuaskan dan mengarah pada apa yang dimaknai dengan multiple orgasm!

Pada awal cerita dikisahkan aku menjabat erat ajakan seorang sahabat, yang tulus ingin menghibur segala kepedihan. Ajakan yang kemudian membawaku pada sebuah pertemuan baru, pertemanan baru, meski dari lingkungan yang tak berbeda dari sebelumnya. Ajakan yang membuatku mengenal satu tempat nongkrong baru bernama River View, dengan fasilitas 24 jam, hotspot, plus penginepan, dan masih ditambah dengan pemandangan taburan bintang kalau enggak hujan atau mendung. Perfect ! Duduk bereng, diantara meja-meja yang yang hampir semuanya kenal, ngobrol ngalor ngidul, ketawa ketiwi, makan, minum bir, dan satu lagi MAEN POKER !!! Just like i said, PERFECT !

Sejenak aku begitu lebur menghayati peranku. Sesaat aku begitu totalitas menjiwai peranku. Tertawa, terbahak, dan tersenyum simpul. Mendengar dan menimpali semua cerita. Juga Terejek dan mengejek. Hingga detik berhembus menyapu menit dan menggulung jam dalam pusaran tanpa dasar. Semua begitu ringan, tanpa beban. Seluruh tulang terasa lebur dan luluh. Menyisakan aliran darah yang begitu cepat dan kentara, menelusup diantara rongga jantung yang memompanya kuat, menghasilkan satu energi dasyat yang mebawaku melayang menembus langit malam.

Dan aku pun terpaku. Sekian detik aku terpaku. Kutarik kursiku ke belakang. Membenahi posisi duduk dan merubahnya dengan posisi nyaman. Bersandar dengan tenang, menarik nafas panjang, dan kuhembuskan perlahan. Kulakukan adegan yang sama hingga beberapa kali take! Dan sekuat tenaga mencoba menarik kesadaran yang sempat terbang.

Beberapa detik kemudian, aku memutar perlahan, menyapu seluruh balkon, menyapu seluruh meja yang hampir semuanya memainkan adegan sama, lengkap dengan bermacam minuman, makanan, dan botol-botol. Aku menatap beraneka rupa yang semuanya berhiaskan tarikan senyum dan goresan tawa. Tanpa beban, tanpa duka, tanpa lara. Persis dengan apa yang kumainkan.

600 detik kemudian, aku berhasil menarik seluruh kesadaran diri lengkap dengan hati dan pikiran yang telah terberi sejak aku diadakan di dunia dan selalu kubawa dalam setiap langkah. Dan setelah terjaga, terbersit dalam rongga pikiran, bahwa inilah yang dinamakan KESENANGAN ! Kesenangan nyata tapi sekaligus semu yang tergantung bagaimana diri masing-masing dari sudut mana ingin memerankannya. Dan bahwa kesenangan yang kuperankan dalam episode inilah yang membawaku pada KEBENARAN SEDERHANA. Kebenaran sederhana untuk diriku sendiri, bukan untuk orang lain.

600 detik kemudian, aku menarik garis merah kesimpulan. Bahwa tak ada yang kan mampu menolak kesenangan. Bahwa akan mudah bagi tiap orang untuk menerima dan beradaptasi dengan sebuah kesenangan. Bahwa akan gampang bagi tiap orang untuk menjabat erat kesenangan meski dengan dalih apapun. Bahwa sungguh wajar ketika semua orang pun ingin memerankan kesenagan dan terlibat di dalamnya. Bahwa sungguh wajar ketika seseorang memilih untuk terus bergelut dengan kesenangan tanpa terbebani dengan urusan pelik kehidupan. Dan bahwa kesenangan akan dengan mudah menjelma menjadi candu yang menagihkan dan sulit tertolakkan.

Puluhan ribu detik yang kumainkan dalam episode ini telah membuktikan semuanya dan membuatku tau pasti, apa alasan seseorang mau terus terlibat dengan sebuah "kesenangan" atau "bersenang-senang" tanpa embel-embel hakikat hidup dan tujuan hidup.

Sebuah kebenaran sederhana, yang membuatku sadar, bahwa tiap individu memiliki rotasi fase masing-masing, yang berbeda satu dengan lainnya. Ada yang berputar cepat dan terus berlari, namun ada yang berputar lambat dan terus merangkak atau bahkan berhenti tak bergerak.

Sebuah Kebenaran sederhana yang menjadi satu keyakinan dan anti klimaks penuh makna, bahwa semua akan dan pernah mengalami fase yang sama dalam wujud yang berbeda. Tinggal bagaimana kita mengambil peran, mengolah, dan memainkannya. Karena hidup cuma sekali, dan waktu takkan bisa berjalan mundur.

Tapi yang jelas, apapun itu, entah baik atau jelek, aku sangat menikmati peranku dan bersyukur karena pernah menghabiskan puluhan ribu detik di dalamnya, bersama teman dan sahabat. Insomnia Club ! Ribuan detik yang indah tuk dikenang .... dan beraharap suatu saat nanti ... bisa kembali bersama ... diatas tanah yang sama ... dan menghirup udara yang sama ...





*** teruntuk anton (JP), adit (JP), wendra (kompas), herpin (kompas), hari (kompas), mona ... i'm gonna misyu all guys ... !
















the simple truth ... no more ... no less ...

Hari ini aku kembali menulis, setelah sekian lama, entah kapan, mungkin setelah sakit ibu makin parah, hingga akhirnya berpulang, tanpa sempat melihat "ulos hitam" permintaan terakhirnya, yang kubawa dan kugenggam erat sepanjang perjalanan menuju pulang.

Hari ini kuputuskan untuk kembali menoreh barisan kata, merangkai menjadi sebuah kalimat panjang, hingga membentuk sebuah alinea dramatis, yang bahkan mungkin aku sendiri tak yakin dan tak percaya bahwa inilah jalan hidup yang telah kulalui.

Hari ini aku menulis, setelah semalam aku menerima sebuah email, dari seseorang, bukan sahabat, bukan juga teman, tapi seseorang yang kukenal selama sebulan, saat aku ada dibawah pengawasannya.

Hari ini aku menulis, setelah aku membaca lekat dan dalam dari sebuah email, yang mungkin makin menggenapi rangkaian fakta, uraian kebenaran, dan gugusan kenyataan yang mengurai satu nilai pembelajaran yang berharga, dan sungguh semakin menenggelamkanku dalam sujud panjang.

Hari ini aku menulis, setelah aku menemukan jawaban atas segala pertanyaan, yang kudapat dari sebuah email bertuliskan "Mba Den, mohon maaf bahwa aku sedikit banyak terlibat dalam hal ini. Bukan karena kekuranganmu, tapi justru karena karaktermu terlalu kuat dan terbentuk begitu kuat dalam dirimu. Mba Den terlalu berkarakter, dan berjalan dengan penuh keyakinan untuk melakukan ini dan itu, dimana dimata perusahaan, hal itu justru membebani karena perusahaan tidak akan bisa merubah karaktermu. dimana itu berarti bahwa perusahaan dan Mba Den gakkan bisa berjalan beriringan."

wew !
Inilah kenapa aku kembali ingin menulis hari ini. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk selalu teringat akan adanya hari ini. Hari diantara rentetan hari-hari lain yang pernah terlewati dalam perjalananku. Hari yang membuatku berhibernasi. Hari yang membuatku menyelami episode-episode drama dengan beraneka warna untaian skenario dimana aku menjadi pemeran utamanya. Bahwa aku pernah berperan sebagai gadis kecil pemberani meski hidup berpindah-pindah dari satu saudara ke saudara yang lain. Bahwa aku pernah berperan sebagai gadis dari kelas bawah diantara gadis gemerlap. Bahwa aku pernah memerankan sebuah kegagalan di masa kuliah yang membuatku menjadi seorang single parent dari seorang malaikat kecil yang cantik. Bahwa aku kemudian berperan sebagai seorang single parent yang benar-benar sendiri tanpa keluarganya tau dan harus bergelut diantara kerja, menyelesaikan kuliah, dan menjadi ibu. Bahwa aku pernah berperan ganda sebagai seorang ratu kecil dalam sebuah gelombang jazz, sekaligus lampu pijar yang nyalanya kian redup oleh gelimang angin dan topan yang melingkupinya. Bahwa aku pernah memerankan pedansa resah yang terombang-ambing karena kehilangan bundanya tanpa sempat melihat saat terakhir. Dan Bahwa aku juga pernah menikmati peran sebagai seorang bintang kecil dimana kemudian akhirnya hilang ditelan malam. Dan bahwa aku pernah berperan sebagai perempuan di titik nol yang dipermainkan untuk kemudian dicampakkan karena status single parent dianggap tak layak.

Hari ini aku kembali menulis, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk kujadikan pegangan yang kan selalu mengingatkan. Untuk kujadikan satu bab indah lengkap dengan semua sub bab yang menghiasinya dalam sebuah buku pelajaran bersampul putih bertinta emas. Bukan matematika. Bukan fisika. Bukan PPKN. Bukan pula Sastra. Tapi buku saku kecil berjudul "TItik BAlik 286".

Hari ini aku kembali menulis, setelah kubaca email dan teringat dialog terakhir malam itu, "kalo memang saya dianggap kurang mampu, saya memilih mundur dan tidak ingin memperpanjang lebih lama lagi. Dan kalo memang nantinya saya dianggap kurang mampu, tolong tunjukkan di bagian mana lengkap dengan detailnya." Satu dialog yang kemudian mengakhiri meeting malam itu. Satu dialog yang kemudian menandai berakhirnya masa kerjaku 3 hari kemudian dan membuatku memutuskan kembali ke asal dan menikmati masa-masa pencarian kerja. Satu dialog yang baru kudapatkan jawabannya dari sebuah email 3 minggu kemudian.

Hari ini aku kembali menulis, tentang sebuah fakta nyata yang berubah menjadi kebenaran sederhana yang tanpa dibuat-buat dan benar adanya. Tentang sebuah "Aku vs Karakter". Tentang sebuah karakter kuat yang justru ternyata disatu sisi adalah sebuah kelemahan dan bukanlah kelebihan. Tentang sebuah karakter kuat yang ternyata mampu menyeretku kedalam penyelaman jauh ke dasar untuk mengungkap semua rahasia.

Hari ini aku kembali menulis, untuk sedikit banyak membuka mataku sendiri, bahwa karakter kuat yang dimata banyak orang menempel erat dalam langkah dan tiap hembusan nafasku ternyata tidak selalu menjadi sumber kelebihan dan kekuatan, malah menjerumuskan. Bahwa memiliki karakter kuat yang selama ini dianggap satu kelebihan oleh banyak orang ternyata bukanlah benar-benar kelebihan.

Hari ini aku kembali menulis, tentang sebuah penemuan untuk diriku sendiri. Tentang sebuah titik balik. Tentang sebuah penarikan diri dari kehidupan. Bukan pengurungan diri. Tapi penarikan diri, sedikit mundur ke belakang, untuk melihat dan mengamati dari jauh. Penarikan diri yang berbuah ketenangan. Penarikan diri yang berbuah kerikhlasan. PEnarikan diri yang berbuah pemikiran matang atas kesimpulan-kesimpulan dari rahasia alam yang kian terbuka.

Dan akhirnya hari ini aku kembali menulis, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk menyelami semua lakon yang pernah termainkan. Dan kemudian aku mendapati, bahwa aku bahagia pernah memerankan semua itu. Bahwa aku tidak menyesal pernah terlibat dan bermain di dalamnya sebagai pemeran utama. Bahwa aku bersyukur atas semua peran yang pernah kumainkan yang lebur dan menjelma menjadi sebuah karakter, meski kemudian membuatku terjatuh.

Dan akhirnya hari ini aku menulis, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Untuk mengungkap satu kebenaran sederhana, tidak lebih, tidak kurang, dan tidak dibuat buat. Untuk satu kemenangan bagi diri sendiri. Untuk satu rasa syukur bahwa aku terlahir sebagai aku dengan jutaan peran yang membuatku tetap mampu berjalan hingga sejauh ini. Dan untuk menyalurkan sedikit kekuatan pada sesama jenis dengan skenario dan peran yang sama. Dan untuk satu keyakinan, bahwa baik atau buruk yang terjadi, tidak ada hal yang sia-sia untuk dilakukan....